Sederhana Tapi Mulia: Bagaimana Nabi Muhammad Berpakaian Sehari-hari
Kisah Keseharian Nabi

Sederhana Tapi Mulia: Bagaimana Nabi Muhammad Berpakaian Sehari-hari

Pakaian yang Menjadi Cerminan Kesederhanaan

Bayangkan ini: seorang pria dengan wajah bersinar, penuh ketenangan, berjalan di antara masyarakat Arab abad ke-7. Pakaian yang dikenakannya bukanlah jubah raja atau pakaian mewah pedagang kaya, melainkan sesuatu yang jauh lebih sederhana—dan justru itulah yang membuatnya begitu mulia.

Nabi Muhammad ﷺ dikenal dengan kesederhanaannya dalam berpakaian. Dalam kesehariannya, beliau mengenakan qamis (gamis panjang hingga mata kaki), izar (sarung atau kain penutup bawah), serta rida’ (selendang atau mantel yang dikenakan di atas bahu). Bahan pakaiannya sering kali terbuat dari kain katun atau wol sederhana, jauh dari kemewahan.

Warna Favorit Nabi: Putih yang Bersih, Hijau yang Damai

Salah satu warna pakaian yang paling sering dikenakan Nabi Muhammad ﷺ adalah putih. Beliau bersabda:

"Kenakanlah pakaian putih, karena itu lebih suci dan lebih baik, dan kafanilah orang mati dengan kain putih." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Namun, selain putih, Nabi juga menyukai warna hijau, yang menjadi lambang kedamaian dan kesuburan dalam Islam. Ada juga riwayat yang menyebut bahwa beliau pernah mengenakan pakaian berwarna merah dengan corak garis-garis, meski bukan merah terang seperti yang sering dibayangkan.

Mitos atau Fakta? Pakaian Nabi yang Tidak Bisa Kotor?

Ada cerita menarik yang beredar di kalangan masyarakat Muslim bahwa pakaian Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah kotor meskipun beliau hidup di tengah padang pasir yang berdebu. Meskipun ini terdengar luar biasa, faktanya adalah Nabi sangat menjaga kebersihan pakaiannya dan menganjurkan umatnya untuk selalu berpakaian bersih dan rapi.

Dalam hadis disebutkan bahwa beliau sering mencuci pakaiannya sendiri dan tidak segan menambal bagian yang sobek. Ini menunjukkan betapa besar perhatiannya terhadap kebersihan tanpa harus bergantung pada orang lain.

Adab Berpakaian dalam Islam: Meneladani Rasulullah

Tidak hanya sekadar memilih pakaian, Nabi juga mengajarkan adab dalam berpakaian, di antaranya:

  • Berdoa saat mengenakan pakaian
  • Memulai dari sisi kanan Saat mengenakan baju atau sandal, Nabi Muhammad ﷺ selalu mendahulukan sisi kanan, mencerminkan sunnah dalam keseharian.
  • Tidak berlebihan dalam berpakaian Nabi menghindari pakaian yang terlalu mencolok dan menganjurkan kesederhanaan. Bahkan, beliau pernah menolak pakaian yang terlalu mewah karena khawatir akan menumbuhkan kesombongan.
  • Menghindari pakaian menyerupai lawan jenis Nabi melarang laki-laki memakai pakaian seperti perempuan, dan sebaliknya, demi menjaga fitrah masing-masing.
  • Wewangian sebagai pelengkap Nabi sangat menyukai wewangian dan sering menggunakannya sebelum keluar rumah, menjadikannya teladan dalam menjaga kebersihan dan kesegaran diri.
  • Pakaian Nabi: Simbol Keteladanan yang Abadi

    Dari semua hal tentang pakaian Nabi, ada satu pesan utama yang bisa kita ambil: berpakaian bukan sekadar menutupi tubuh, tetapi juga mencerminkan sikap dan kepribadian. Kesederhanaan Nabi dalam berpakaian tidak mengurangi kewibawaannya, justru menambah keagungan dan keteladanannya.

    Hingga kini, banyak Muslim di seluruh dunia yang mencoba meniru cara berpakaian Rasulullah ﷺ—bukan hanya dari segi model, tetapi juga dari nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Karena sejatinya, pakaian bukan sekadar kain yang membungkus tubuh, melainkan cerminan dari jiwa yang mengenakannya.